Namun, mendengar kata-kata Lynx, pemuda itu tersenyum licik, dia memiliki rencana lain. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan sebuah bom asap kecil dari balik pakaiannya, senjata berbentuk bulat yang berisi racun kuat. Awalnya, dia berniat menggunakannya untuk menutupi jejak pembunuhannya dengan membunuh mereka semua yang masih hidup, tetapi sekarang dia tidak punya pilihan lain.

"Matilah kalian berdua," bisiknya pelan. Dia melemparkan bom asap itu ke arah Lynx dan Jelita. Namun, Lynx, dengan pendengarannya yang tajam, mendengar bisikan pemuda itu dan menyadari rencananya. Dalam sekejap, dia membalikkan badan, dan dari matanya keluar sinar laser tidak terlihat yang menghantam bom tersebut saat baru lepas dari tangan pemuda itu.

Ledakan terjadi tepat di depan pemuda itu. Racun dari bom asap menyebar dengan cepat, memenuhi udara di sekitarnya. Pemuda itu berteriak panik saat asap memasuki paru-parunya. "Tidaaaak!" Jeritannya terdengar memilukan sebelum tubuhnya ambruk, tidak bergerak lagi.

Jelita, yang menyaksikan kejadian itu, menatap Lynx dengan bingung. "Apa yang terjadi, Lynx? Kenapa dia... meledakkan dirinya sendiri?"

Lynx mengangkat bahu, memasang wajah polos. "Aku tidak tahu. Mungkin dia malu. Ayo, kita lanjutkan perjalanan," katanya santai, menggenggam tangan Jelita.

Mereka berjalan menjauh, meninggalkan tempat itu. Dengan indranya yang tajam, Lynx sudah merasakan arah yang harus mereka tuju—sebuah kota besar yang ramai, tempat yang sempurna untuk mulai mencari informasi.

Malam telah menyelimuti hutan, dan angin dingin berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan. Lynx dan Jelita berhenti di sebuah area yang cukup lapang, di mana sinar bulan menembus celah-celah pepohonan, menciptakan suasana yang hening namun menenangkan. Jelita duduk di atas batu besar, menyandarkan tubuhnya sambil mengusap lengannya yang sedikit menggigil. Di sampingnya, obor api menyala, tetapi tidak mengurangi udara dingin malam itu.

"Kepala suku, kenapa bisa berjalan di kegelapan malam tanpa penerangan? Aku melihat kepala suku berjalan di kegelapan malam seolah siang hari," tanya Jelita, rasa ingin tahunya membara.

"Yun Qing, kamu masih saja memanggilku kepala suku. Itu bisa menimbulkan banyak masalah nantinya," tegur Lynx dengan nada tegas.

"Maafkan aku, Xiao Lin. Aku sering melupakannya," jawab Jelita dengan wajah sedikit memerah.

Lynx menganggukkan kepalanya. "Sebaiknya kamu membiasakannya. Mengenai penglihatan di malam hari, ini salah satu kekuatan yang aku miliki. Aku mampu melihat dalam kegelapan malam dengan baik. Seorang kultivator juga bisa melakukan hal seperti ini," jelasnya.

"Yun Qing, karena kita sudah meninggalkan desa, aku ingin membuat status baru untuk kita," Lynx mulai menyusun kata-katanya. Dia tahu bahwa kata-kata ini pasti akan menyakiti Jelita, tetapi dia harus bersikap tegas agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

"Status baru seperti apa?" tanya Yun Qing, jantungnya berdegup kencang. Dia sudah bisa menduga arah pembicaraan Lynx.

Lynx menatapnya dengan pandangan serius. "Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, selama di desa Lianhua, kita menggunakan status suami istri untuk mempermudah segalanya. Namun sekarang, kita tidak memerlukan itu lagi. Kita bisa menghilangkan status tersebut dan cukup bersikap biasa. Kita tetap bersama tanpa harus berpura-pura."

Jelita tersenyum kecil, meskipun hatinya terasa sakit. "Baiklah, kepala suku, eh, Xiao Lin. Jika itu maumu, aku setuju saja," jawabnya dengan suara pelan. Dia berusaha untuk tetap tenang, meskipun matanya sedikit berkaca-kaca. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Lynx.

Lynx memperhatikan semua reaksi Jelita, menyadari perubahan dalam cara bicaranya. "Maafkan aku, Jelita. Ini demi kebaikan kita bersama," batinnya, merasakan berat di hatinya.

Jelita duduk memandang api unggun, bayangan selama tiga tahun terbayang kembali di matanya. Dia berusaha memberikan segalanya untuk Lynx, bahkan rela kelaparan demi Lynx. Namun, setelah menyadari, semua itu terasa tidak berarti. "Andai saja aku juga bisa melupakan kejadian itu seperti dirinya. Mungkin jika aku bisa membuatnya mengingat semua kenangan kita, dia kelak akan menerimaku," pikirnya, berusaha memberi semangat pada diri sendiri.

Lynx, di sisi lain, dapat merasakan Jelita sedang berusaha menahan emosinya. "Aku tidak boleh membiarkannya tahu bahwa aku sebenarnya mengingat semuanya. Dia pantas mendapatkan pria yang benar-benar bisa menyayanginya," batinnya dengan berat.

"Di sini dingin sekali," gumam Jelita, meniupkan napas ke tangannya untuk menghangatkan diri. Suaranya memecah keheningan malam.

Lynx tersenyum tipis, berjalan beberapa langkah ke depan, lalu menoleh. "Tenang saja. Kita tidak akan tidur di tempat terbuka seperti ini," katanya dengan santai.

"Kalau begitu, di mana kita akan bermalam?" tanya Jelita penasaran, mengangkat alisnya.

Lynx tidak menjawab. Dia memejamkan matanya sejenak, lalu mengangkat tangannya perlahan. Dalam sekejap, tanah di sekeliling mereka mulai bergetar. Jelita terpaku, matanya melebar saat tanah itu perlahan naik, membentuk struktur sederhana. Dinding dari tanah yang kokoh muncul, diikuti oleh sebuah atap berbentuk kubah kecil. Dalam waktu singkat, sebuah rumah sederhana berdiri di depan mereka.

Jelita berdiri dengan mulut sedikit terbuka, memandang rumah itu dengan penuh kekaguman. "Apa ini... kau yang melakukannya?" tanyanya, nyaris tak percaya.

Lynx menoleh sambil mengusap tangannya yang berdebu. "Iya, aku hanya menggunakan sedikit elemen tanah. Ini sudah cukup nyaman untuk bermalam," jawabnya santai.

"Elemen tanah? Apa maksudmu?" Jelita mendekat, menyentuh dinding rumah yang terasa hangat dan kokoh.

Lynx tersenyum tipis, mengangguk. "Seorang kultivator menyerap energi Qi dari alam, dan Qi tersebut bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Namun, setiap kultivator biasanya memiliki elemen bawaan khusus dalam tubuh mereka, seperti elemen tanah, api, air, angin, atau petir. Elemen itu menentukan kekuatan unik mereka."

Jelita memandang Lynx dengan rasa penasaran yang semakin dalam. "Lalu... bagaimana denganmu? Apa elemen bawaanmu?" tanyanya dengan hati-hati.

Lynx menatapnya sebentar, senyumnya tipis, lalu menjawab dengan tenang, "Seperti yang kamu lihat, aku bisa mengendalikan tanah."

Namun, di dalam hatinya, Lynx berkata, "Bukan hanya tanah. Aku bisa mengendalikan semua elemen. Tapi aku tidak boleh memberitahunya. Terlalu banyak menunjukkan kemampuanku hanya akan membawa masalah, apalagi kemampuanku berbeda dari kultivator biasa."

"Masuklah. Di dalam akan jauh lebih hangat. Aku akan berjaga di luar," kata Lynx sambil menunjuk rumah sederhana yang baru saja dia buat dengan kekuatannya. Setelah Jelita masuk, Lynx berjalan ke sebuah batu besar di dekat sana dan duduk bersila, mulai bermeditasi dengan tenang.

Jelita melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu. Udara di dalam memang terasa hangat, seperti yang dikatakan Lynx, tapi aroma tanah yang kuat menyelimuti ruangan. Ia memandang sekeliling, memperhatikan dinding-dinding sederhana yang terbuat dari tanah. Rumah itu hanya terdiri dari satu ruangan tanpa jendela, hanya lubang kecil sebagai jalan masuk.

"Ini rumah yang sangat sederhana," gumamnya. Pandangannya jatuh ke lantai tanah, "Tidak ada tempat tidur, aku harus tidur dimana?". Jelita menghela napas panjang. "Aku harus tidur di lantai... tapi ini sudah lebih dari cukup, aku sudah terbiasa tidur dimana saja. Selain itu, Xiao Lin sudah bersusah payah membuatnya untukku."

Ia merebahkan tubuhnya di lantai yang dingin, mencoba merasa nyaman. Namun, seiring keheningan yang menyelimuti, perasaan sedih yang telah lama ditahannya mulai mengalir keluar. Tanpa sadar, suara tangisnya terdengar pelan, memenuhi ruangan itu. Tangis yang ia tahan sejak mendengar Lynx meminta dia berhenti menggunakan status suami istri.

Di luar, Lynx yang sedang bermeditasi mendengar suara itu dengan jelas. Ia membuka matanya sejenak, tatapannya menunjukkan rasa kesedihan. "Itulah alasan aku membuat rumah itu. Dia butuh tempat untuk meluapkan emosinya agar tidak menjadi penyakit." Lynx menghela napas, lalu kembali menutup matanya, memusatkan pikirannya untuk bermeditasi.

Lynx memfokuskan kekuatannya, menyebarkan kesadarannya hingga ribuan kilometer. Ia menjelajahi benua Tianzhou, menembus desa-desa, kota-kota, hingga ke tepi lautan yang mengelilingi benua itu. Namun, tidak ada tanda-tanda Leena atau penduduk Surya lainnya.

"Aku masih belum bisa menemukannya. Terlalu banyak orang di benua ini," pikirnya, frustrasi. "Aku harus memikirkan cara lain untuk menemukan Leena. Aku merindukannya." Lynx menghela napas panjang, membiarkan pikirannya larut dalam kerinduan yang mendalam.

